|
Atau bisa pesan langsung ke:
Mumu
Penerbit Kebun Ide Jl. H. Gadun No 43 Karang Tengah Lebak Bulus Jakarta 12440 Tel/Fax : 75905741 HP :0816 1994 156 mumu_aloha@yahoo.com Harga Rp 25.000 ( belum termasuk ongkos kirim) ******* Suatu dini hari di masa lalu, Haikal Azad menemukan dirinya basah kuyup di atas tempat tidurnya. Jam di dinding menunjuk angka empat. Di sampingnya Kahfi Azad, anak nomor enam -kakak lelaki tepat di atasnya, masih tertidur pulas. Haikal mengangkat selimutnya, khawatir kalau ia ngompol. Ia meraba celananya. Basah. Tapi, Haikal bingung karena kali itu rasanya lain. Ia mencoba mengingat-ingat, menerka-nerka, tapi lalu ia tiba pada satu kesimpulan: mimpi basah pertamanya. Entah kenapa tiba-tiba saja perasaan takut muncul. Haikal khawatir kalau hal tersebut diketahui orang lain, terutama Kahfi -orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Dalam cara yang tak pernah dimengerti Haikal, entah kenapa Kahfi seolah selalu berpikir kalau mempermalukan Haikal adalah suatu amal saleh; ia selalu tampak begitu puas bila bisa mengolok atau mempermalukannya. Membayangkan Kahfi memergokinya bermimpi basah saja, telah membuat Haikal mual. Aku tak mau orang lain tahu! Apalagi kucing garong itu! Perlahan dan hati-hati, Haikal bangun dari tempat tidurnya, menarik selimutnya, lalu memasukkannya begitu saja ke dalam lemari pakaian. Tidak akan dibiarkannya seseorang berbaik hati mencucikan selimut itu dan membiarkannya mendapati noda-noda yang terlalu mencurigakan untuk diamati tersebut. Haikal memeriksa seprainya. Kering. Ia memeriksa lagi, takut ada noda tercecer. Bersih. Ia menarik nafas lega. Sesaat kemudian Haikal berjingkat ke kamar mandi, membuka celana dalamnya yang terasa lengket dan memeriksanya. Ia kini yakin kalau cairan itulah yang disebut air mani. Namun, Haikal terus berdiri di sana, di depan cermin kamar mandi. Berpikir kalau aib terbesar baru saja menimpanya. Kilasan mimpi itu berkelebat seperti deja vu di matanya. Hanya episode-episode pendek, terputus-putus dan sama sekali tidak membentuk plot cerita yang linear. Tapi, satu hal sangat terang: Haikal memimpikan Kahfi! Dan, mengingat itu seketika Haikal merasa perutnya seperti mau muntah. Yeak! Haikal menyiduk air dan membasuhkannya di muka, berkumur dan mencuci mulutnya dengan air banyak-banyak. Sangat banyak. Dan, seolah belum puas, ia ambil sikat giginya lalu menggosok giginya berkali-kali, sampai berdarah. Dan, ia terus melakukan itu berulang-ulang. Haikal sama sekali tak menyukai mimpinya. Tidak orang itu. Tidak dia! Haikal sebenarnya tak tahu harus marah pada siapa, tapi ia memang marah karena mimpi basah pertamanya itu. Namun, Haikal mencoba menenangkan diri dengan mengingat-ingat pelajaran fiqh yang pernah diajarkan guru ngajinya. Ia sudah jarang datang ke pengajian, tapi ia masih bisa sedikit mengingat pelajaran mengenai hadas dan adab bersuci. Hadas besar, hadas kecil. Farji dan mani. Mazhab Syafii. Haikal pun mandi. Jam baru menunjukkan pukul setengah lima pagi. Haikal Azad anak ketujuh dari delapan bersaudara. Lima perempuan, tiga laki-laki. Ia punya satu adik, Naila. Haikal sangat menyayanginya. Mereka berselisih cukup jauh, lima tahun. Haikal tidak terlalu dekat dengan saudaranya yang lain, terutama Kahfi -yang juga berselisih lima tahun dengannya. Mereka lebih sering bertengkar ketimbang bermanis-manis mengerjakan prakarya sekolah bersama, hal tersebut terus terjadi sejak kecil hingga saat itu -saat Haikal berusia sebelas. Ayahnya, Shah Azad, seorang berdarah Arab dan lebih dikenal sebagai ayah dari enam belas anak dan suami dari tiga orang istri. Ketiganya tinggal di tiga rumah yang berbeda, meskipun berdekatan jaraknya. Ibu Haikal adalah istri pertama yang dituakan. Ia dipanggil Ummi. Setiap Idul Fitri, Maulidan ataupun acara keluarga lainnya, ketiga istri berkumpul di rumah istri pertama, Sofia Azad. Ketiga istri dan anak-anak Shah Azad hidup berkecukupan. Shah Azad seorang muslim yang taat dan keras pada anak-anaknya. Ia bisa menjadi seorang yang sangat otoriter. Dan, itulah yang membuat Haikal tak pernah merasa dekat dengan ayahnya. Ia hampir tak pernah berbincang santai dengannya. Haikal ingat suatu siang selepas pembagian rapor di sekolah dan Haikal pulang dengan membawa hasil nilai caturwulannya yang, di luar dugaan, sangat memuaskan. Haikal rangking dua. "Abah, Ummi udah bilang?" Mata anak lelaki kecil itu berbinar. Shah bergeming, ia meneruskan kesibukannya mengatur pembukuan kios kelontongnya. "Ical dapet rangking dua," Haikal masih begitu bersemangat menyampaikan berita gembiranya. Sang ayah tetap fokus pada angka-angka di kertas dan LCD kalkulator. Mungkin ia sedang keras-kerasnya berpikir mengatur debet dan kredit, penjualan dan pembelian, untung dan rugi. Sepertinya memang Ayahnya tidak mendengar saat itu dan hal tersebut seketika mengurungkan Haikal untuk meneruskan niatnya menyampaikan berita yang membuatnya bangga. Namun, dugaan Haikal meleset. Ayahnya ternyata bisa mendengar kok. Terbukti saat tiba-tiba terdengar bunyi musik keras dari balik kamar Kahfi, Shah langsung tersentak. "Kahfi!" Sebuah teriakan keras dan kasar. Suara volume tape yang tadi merobek telinga, surut seketika.
"Kamu barusan bilang apa, Cal?" Shah melirik. Sering dalam masa-masa awal pencarian identitasnya, Haikal tergelitik mengajak orang lain di keluarganya, siapa pun dia, untuk dijadikan tempat bertanya dan berbicara. Tapi, Haikal terlalu malu dan ragu. Masalah pribadi, apalagi yang berbau seks, tabu dibicarakan di rumah Shah. Haram! Padahal banyak hal yang membuat Haikal ingin tahu dan penasaran, terutama yang berkenaan dengan masalah pribadinya. Satu atau dua keterangan dari gurunya di pengajian atau sekolah hanya cukup memuaskan sedikit saja dari keingintahuannya. Haikal ingat, suatu hari ia begitu dihantui perasaan bersalah karena tanpa sadar mengkhayalkan Ustaz Khaer menciumnya. Astaghfirullah. Pulang mengaji lebih parah lagi. Kahfi dengan brengseknya meninggalkan sebuah majalah porno di meja belajarnya. Haikal menahan diri untuk tidak menyentuh benda itu. Ia berniat mengembalikannya pada Kakak sialannya secepat mungkin. Ia bahkan akan melakukannya sambil menutup mata. Tapi, gambar eksplisit dua insan berlainan jenis dalam pose seronok di sampul majalah itu tak ayal menarik tangannya. Pertama hanya menyentuh, lalu membukanya, kemudian matanya mulai bekerjasama. Haikal membacanya. Lima menit kemudian ia malah membuka yang lain-lain selain halaman majalah. Setelah mimpi basah pertamanya, masturbasi pertamanya, lagi-lagi berhubungan dengan nama Kahfi. Dan, bahkan pada orgasme pertamanya pun, bajingan itu masuk dalam visi fantasinya. Sialan! Haikal meludah-ludah sesudahnya. Sebuah tanda tanya besar selalu ada dalam pikiran Haikal saat itu. Bagaimana mungkin ia mengkhayalkan lelaki kalau jelas-jelas ia juga seorang lelaki? Pertanyaan itu bagaikan sebuah misteri tak terkuak bagi seorang Haikal Azad. Dia ada di sana, melangkah, tapi harus meraba dalam gelap. Sendirian, Haikal hanya bisa membaca sebuah kata dalam tulisan Braille: seksualitas. Kendati merasa bagai musafir buta tanpa tongkat, Haikal sama seperti remaja belasan tahun pada umumnya. Ia pergi bermain basket di hari Minggu, bermain band dengan empat orang temannya dan hampir setiap liburan panjang ia hiking ke gunung. Gadis-gadis SMA 76, tempatnya bersekolah memberi skor 8 untuk wajah dan penampilan Haikal. Tak seorang pun temannya menganggapnya berbeda, karena Haikal juga menganggap dirinya memang sama dengan mereka, kecuali dalam satu hal. Satu hal yang hanya ada di dunianya sendiri, jauh di dalam sumur jiwanya. Waktulah yang kemudian menjadi guru baginya. Membuatnya secara perlahan paham siapa dirinya dan di mana ia berada. Awalnya sangat sulit. Tak ada satu orang pun yang akan pernah bisa membayangkan betapa sulitnya. Bahkan ketika pertama kali dia harus menyebutkan dua kata itu. Bukan pada orang lain, melainkan hanya pada dirinya; aku gay. Haikal langsung merinding. Seperti ada roh lain yang ingin merasukinya, Haikal kerap merasa ketakutan, sedih, malu, marah, dan berdosa setiap selesai merapal dua kata itu. Dalam shalat-shalat malamnya ia bermohon pada Yang Menulis Takdir. Sembuhkan aku, ya Allah, Haikal menjerit dalam bisikan. Saat itu Haikal menganggap bahwa dirinya sakit. Mungkin gila. Skizofrenia. Tapi, ia pun lantas terheran sendiri. Pikirnya, apakah seorang gila masih mengingat Tuhan? Haikal mencoba mengusir semua pikiran tentang itu. Pernah dua bulan dalam hidupnya ia tidak mau istirahat dan berdiam diri sedikit pun, berharap bisa menghindari pikiran yang bukan-bukan. Haikal berangkat sekolah, waktu itu masih SMA, jam enam pagi. Apa pun ia lakukan untuk mengisi waktunya, asal bukan kegiatan yang merangsang daya khayalnya yang terlalu tinggi. Pulang sekolah hari telah malam. Dan, ia sudah sangat kelelahan. Tapi, di mimpinya pun tetap sama. Lelaki. Lelaki. Dan, lebih banyak lagi Lelaki. Dua bulan, dan ia berakhir di ranjang rumah sakit. Bau obat. Memuakkan! Ia juga pernah kembali rajin mengaji. Shah dan Ummi senang melihatnya. Haikal berharap ia menemukan solusi atau apalah. Tapi, keangkuhan dinding agama seakan bahkan tidak mengizinkannya sekedar mengetuk pintu dan mengucap assalamu'alaikum. Sapanya berjawab kutuk dosa. Haikal merasa ia berdiri di luar sebuah negeri: utopia penuh janji keberkatan dan kebahagiaan abadi. Negeri itu begitu terlindung. Bentengnya tinggi dan kokoh bagai Tembok Cina. Haikal bahkan tak dapat melihat ke dalam. Sementara ia yang ingin sekedar menyapa, berdiri di luarnya, di tengah padang pasir luas penuh batu, penuh duri, penuh pecahan kaca dan tulang-belulang manusia. Angin gurun yang kasar bahkan menorehkan luka di wajahnya. Haikal memanggil-manggil orang-orang yang tinggal di dalam negeri itu, tapi bahkan penjaganya pun tak mendengar. Atau, tak mau mendengar? Ia lalu jatuh terpuruk di sana, ambruk seperti sepotong roti tawar lapuk digerogoti kapang. Haikal ingin menangis, karena kesendirian yang begitu menyakitkan. Tapi, bahkan setetes pun airmatanya tak mau keluar. Sudah kering. Habis. Haikal kian berdebu. Ia menjadi tampak seperti fosil manusia Cro Magnon yang tanpa daya lekang ditelan usia. Taubat dan dosa, Haikal bingung di mana bedanya. Tapi, Haikal bermetamorfosa. Tak ada satu pun bisa menghentikannya.
*******
Acara peluncuran novel "Ini Dia Hidup" disertai dengan diskusi "Homoseksualitas dalam Sastra" yang menampilkan pembicara Bagus Utama (pengarang novel "Manusia-manusia") dan Hetih Rusli (editor novel "Lelaki Terindah" karya Andrei Aksana). Sebagai bagian dari pergelaran Q! Film Festival 2004 (9-19 Desember).
|
| Ez August 22, 2007 01:04 PM PDT hey, Har. coba email ke sini deh: agustian.hy@gmail.com sekarang kamu di mana? waaah... udah go international toh? europe? the states? aussie? atau... africa? hehehehe..... novelku mo tak terbitin ulang, dengan publisher yang laen. doakan yah..... u.p. Oscar. Danke schoen. semoga terinspirasi | ||
| oscar April 11, 2007 05:04 PM PDT novelx asyik menggambarkan seorang cowok yang berusaha menemukan jati dirinya yang sebenarnya gw suka | ||
| Hari August 4, 2006 04:41 AM PDT Woi.. beneran, aku baru baca blog ini lagi dan aku dah gak di Indo. Kapan ya ketemuan lagi. Emailmu apa... | ||
| Ez @ Alf January 29, 2006 01:47 PM PST Mr. Alf ^-^, dalam waktu dekat aku bakal nagih janji bwt bantuin aku nyari penerbit. I found that Richard Oh's book you tol' me; I thought I had to have a cordial talk with him. | ||
| Mike January 19, 2006 03:55 PM PST NB: -Terlepas dari pesan utama yang diusung dari novel ini- | ||
| Mike January 18, 2006 09:17 PM PST G uda baca novel ini.. Menurut g, novel karya Ezinky ini menarik u/ di baca.. Bagus. Beda dari yang laen. Isinya menurut g sangat sentimental. G suka caranya yg kreatif memaparkan suatu cerita melalui penggambaran reaksi kimiawi. Plotnya juga beda dari kebanyakan buku yg pernah g baca. -Satu Lagi Novel Indonesia yang Berkualitas- | ||
| Ez January 11, 2006 11:19 AM PST Barangkali sempat, silakan mampir ke sini: http://agustian-hy.blogdrive.com Ethereal Ez's Den PERSONAL JOUNAL OF HENDRA AGUSTIAN aka EZINKY | ||
| Alf August 17, 2005 11:47 PM PDT Hai Hendra, telat banget ya aku baca buku kamu, sorry! Aku udah baca "Lelaki Terindah" dan menurut pendapatku pribadi, novel "Ini dia, Hidup" kualitasnya sangat di atas "Lelaki Terindah" yang dibilang (at least di covernya) bahwa itu sebuah masterpiece..duh..kata siapa ya???enggak banget gitu lho!!!! Di "Ini dia, Hidup" dapat ditemukan bahwa cinta sejati tuh gak hanya milik kaum hetero karena dalam kehidupan diluar novel pun memang ada cinta sejati pada kaum gay. Sebagai karya pertama, pastilah ada kekurangan tapi menurut aku karya ini bagus bukan hanya dibaca oleh gay tapi juga para straight atau yang pura2 jadi straight:)) Anyway, novel ini mengingatkan aku kepada dua sahabatku yang dua2nya berada jauh disana yang menamakan anak mereka sama dengan namaku..so sweet!!...Selamat ya, le petit Hendra!! | ||
| Ez May 23, 2005 07:52 PM PDT buzz_crash, saya juga gak tahu, kenapa saya milih nama Kilby dan Seth untuk mewakili dua karakter di novel saya... hehehhe. Tapi (this is very individual), dalam bayangan saya, saya tahu persis, Kilby dan Seth itu rupanya seperti apa. ^-^ Tentang cover, nah, itu dia. Saya nyaris tidak banyak berurusan dengan ini. Ada sih yang bertanggung jawab untuk bagian ini .... (Ade! Angkat tangan! :D). Tapi, saya sendiri tidak berpikiran bahwa itu menggambarkan 'kekumuhan' yang Anda maksud. Saya malah lebih berpikir bahwa itu mewakili karakter-karakter yang mesti berjuang demi sebuah eksistensi. Wah, itu mungkin terdengar sedikit falsafati, ^-^ tapi, kira-kira begitulah. Mudah-mudahan saya tidak salah menginterpretasikan apa yang menjadi core dari buku ini. | ||
| Ez May 23, 2005 07:40 PM PDT Dear antok Dari penulis, saya minta maaf banget mengenai kualitas intrinsik buku. Sejujurnya, buku ini memang terbit berkat jerih payah (kadang sampai benar-benar kepayahan ^-^) dari tim Penerbit Kebun Ide yang notabene memulai jejak rekam penerbitan dengan buku ini. Jadi, ibaratnya, Ini Dia Hidup tuh anak pertamanya Kebun Ide. Jadi, maaf jika masih banyak kekurangan. Mudah-mudahan tidak mengurangi minat terhadap buku ini. ^-^ | ||
| buzz_crash May 18, 2005 12:18 AM PDT dari tiga novel gay yang sebelumnya pernah release, ini dia hidup memberikan warna baru. setting Kilbi dan Seth (terus terang nama keduanya sungguh "enggak banget") begitu menyentuh (mengingatkan saya pada pasangan Tom Hanks-Antonia Banderas pada film Philadelphia yang tepat sata tonton sehari sebelum saya membeli buku anda), kisah Adam dan HAikal pun begitu "metro" dan "elegan", perkelahian Adam-Haikal di Chandravia dan sawah-Klaten begitu jantan (namun romantis) untuk diimajinasikan. namun,, bukankah di balik nilai plus tentu ada nilai minus. saya ingin memberikan sedikit "advice" (s)sebagai seorang GAY dan PEMBACA. permulaan kisah cinta adam-Haikal terlalu simpel untuk menggambarkan sebuah hubungan antara seorang high class dengan seorang satpam. saya terkejut sekali ketika baru beberapa lembar dilewati, plot sudah menggambarkan hubungan mereka yang lebih jauh dan dalam , terlalu easy/gak worth it! (tapi adegan diner-nya sumpah cool abis,, gwe baca berulang-ulang tuh!) kemudian tidak ada sebersit kalimat yang menggambarkan paras (tampang) para tokoh, tampankah? tinggikah? kulit hitamkah? yang ingin saya tanya, maksud dari cover novel anda itu sebenarnya apa? sebersit dalam benak saya tampak sebuah wacana pesimisme terhadap gay. kaki yang tampak "kumuh" tsb seolah-olah melambangkan kekumuhan gay,, terus terang saya merasa canggung dengan cover novel tsb,, tolong jelaskan maksud anda... two tumbs up deh (mungkin kalo ditambah pengeksplorasian seksual yang lebih explisit, bakal ada four thumbs for you!) i'm waiting for your second story... | ||
| antok May 12, 2005 10:46 AM PDT Tambahan kritik: saya kehilangan satu halaman buku yakni halaman 176/177. Bagaimana respon pener bit?. Hm, saya mencari novel Manusia-manusia di Gramedia kok tidak ada ya. Dimana saya bisa men dapatkan? Please give me reason. | ||
| antok May 12, 2005 10:42 AM PDT Ini dia,Hidup! Akhirnya aku menemukan novel gay indonesia yg positif. Dibandingkan Lelaki terindah dan kau bunuh aku dengan cinta, novel ini berani mendobrak pola pi kir masyarakat yang masih homoph obic. Selangkah lebih maju. But,pe nulis masih kurang bereksplorasi da lam pemikiran dimana masalah gay hanya dipandang masalah personal sex,bukan masalah kehidupan ber masyarakat. satu sisi buruk yang kurang saya sukai adalah pemberon takan masyarakat gay di Inggris.se cara tersirat hal ini menggambarkan bahwa kalau di Inggris aja ada per tentangan bagaimana dgn di Indo. But, saya dukung penuh penulis ata s keberaniannya tampil beda. satu lagi,kok kualitas kertas buku ini bu ruk sekali. Saya baru beli seminggu tapi udah mulai rontok semua.Thnxs | ||
| putra April 17, 2005 06:55 PM PDT bestnyer citer..tapi kalau sambung lagi bisa aku ngocok kontol ku | ||
| Ezinky February 19, 2005 03:39 PM PST Silakan langsung hubungi penerbit Kebun Ide. Informasi terakhir, Ini Dia, Hidup sudah masuk distribusi Gramedia. ^-^ | ||
| bebek February 17, 2005 02:31 PM PST gue mo beli donk.. tapi kemaren gue cari di gramed dan gunung agung kok gak ada ...??? btw gue carinya di Taman Anggek, kalo ada info hubungi gue di b3kt1@yahoo.com | ||
| jo February 2, 2005 02:52 PM PST wah ngebaca resensinya aja gue langsung tertarik, kayaknya gue mesti punya ini novel. gbu | ||
| yose February 1, 2005 06:59 PM PST Bukannya Kripik yang makanan? hehehe.... yang penting maju terus dan jangan pantang menyerah... jangan pedulikan seberapa lambat kita berjalan yang terpenting adalah jangan pernah berhenti berjalan..... jika kamu mau share ttg sesuatu hal mengenai apa aja, kamu bisa email aku di yose_cut@yahoo.com | ||
| Ezinky u.p. Yose January 31, 2005 03:53 PM PST Kritik itu makanan saya. ^-^ Makasih banyak. | ||
| yose January 31, 2005 01:57 PM PST aku dah selesai ngebaca bukunya, sekilas kamu sepertinya ingin bercerita seperti Ayu Utami dalam Samannya, sayang kamu kurang berani dalam mengeksplore kata-kata "kotor" yang dilakukan Ayu. Novel ini menjadi kurang fokus dengan tokoh2 tambahan yang tidak jelas, seperti pemilian toro sebagai "pengacau" kanapa harus toro? apakah hanya untuk menyepadankan dengan Tora pemain dalam Arisan? kenapa bukan teman SMA haikal yang lain? dan yang sedikit menganggu stelah Toro mengacaukan hubungan haikal dan adam, kemana dia? hilang ditelan bumi?. Aku mungkin bukan penulis, tapi aku suka mengamati cara seorang penulis berbicara dengan pembacanya, mungkin sebagai penulis baru membuat kamu belum bisa menentukan style tulisan yang kau pilih. Satu hal yang kurang dari novel ini dan saya sanga oenting untk membangun soul suatu novel adalah ttg pencarian identitas para karakter tokoh yang ada tidak seperti yang diharapkan, sangat dangkal (aku pernah bilang mgnai ini) dan kurang bisa djelaskan secara psikologi. mungkin sebelum menulis kamu sebaiknya mengeksplorasi lebih jauh problem psikologis yang terjadi pada kalangan yang tersisihkan seperti kaum gay pada novel ini, dan mesti dingat kondisi kultur indonesia membuat mereka lebih tidak terbuka. aku harap dengan kamu bisa memahami sisi kejiwaan mereka kamu bisa membuat novel yang memang layak untuk dibaca. maaf yah, aku jadi banyak mengkritik kamu, sukses buat kamu | ||
| Ezinky u.p. Tirta January 29, 2005 04:45 PM PST Tirta, coba hubungi penerbit Kebun Ide untuk overseas deliv. Saya pikir, mungkin hanya masalah shipment dan ongkos kirimnya saja kok. Salam | ||
| Ezinky January 29, 2005 04:42 PM PST Yose, mungkin beberapa kosakata dalam buku ini memang cenderung... Kilby banget ^-^, tapi, sebenarnya itu lebih karena karakter yg saya angkat dalam buku ini memang membawa saya untuk memakai pembahasaan dan pengalimatan seperti itu. Tapi, dalam cerita lain (seperti yang sekarang ini sedang dalam tahap penulisan), saya membuat warna lain dalam segi linguistiknya. Makasih buat inputnya | ||
| yose January 27, 2005 08:13 PM PST saya baru ngebaca sedikit bab dai buku ini, secara ide daiakui berani menmbus bats sastra yang telah ada, cuma dari isinya masih agak dangkal dalam menggambarkan sisi psikologis seorang yang bermetamorfosa, terlampau banyak menggunakan istilah-istilah yang mungkin kurang dipahami orang awam, sehingga novelni terkesan sedikit mengawang-awang, tapi salut buat kamu | ||
| tirta January 27, 2005 05:35 PM PST Subhanallah, cerita ini seperti kenyataan ya? Isyarat apa yang Allah SWT berikan atas novel ini. Yang jelas, pasti ada hikmah pada novel yang ber-"Homoseksualitas dalam Sastra". Aku suka novel ini. Bisa dikirim ke luar negeri gak ya? | ||
| baskin January 26, 2005 06:30 PM PST Congrats...pemaparan kehidupan tersembunyi melalui sastra, selalu indah. Good luck juga utk seterusnya! | ||
| heri January 26, 2005 10:32 AM PST wah salut banget baca sedikit sinopsisnya, ehm di toko buku ad angak ya ? aku udah baca buku lelaki terindah juga satu buku lagi " bunuhlah aku dengan cintamu" yang ini belum nih . heheheh oh iya kapan-kapan mampir ya ke web kami yaitu gan ,. sama juga di blog kok. disini . http://lelaki.blogdrive.com, kali aja bisa nambahin artikel buat disana. see you | ||
| Ezinky January 4, 2005 04:25 PM PST Makasih banyak. Aku anak kemaren sore di dunia tulis menulis, bahkan di dunia yang menjadi ide tulisanku. ^-^ tapi aku nggak keberatan untuk belajar banyak. Hari, kapan yah, qta kesampean ketemu lagi? Waduh, jangan-jangan dikau udah nggak di Indo lagi sekarang | ||
| Hari December 28, 2004 07:14 PM PST Salut! Sayang aku belum dapat bukunya, karena pas peluncuran gak sempet beli.. :(( Tetp kreatif ya, broer! h | ||
| Aal December 17, 2004 05:17 PM PST Teman ku sahabat ku..... satu kata buatmu, aku bangga pada pencapaian mu | ||
| Leave a Comment: |