<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Dec 14, 2004
Ini Dia, Hidup

Ini Dia, Hidup Karya Ezinky yang diluncurkan di Teater Utan Kayu, Jakarta, Minggu (12/12/2004) pukul 16.00 WIB

Sekarang bisa didapatkan di toko buku aksara kemang, Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terkemuka di jakarta dengan harga Rp 36000. novel ini merupakan produk pertama dari Kebun Ide, sebuah penerbit independen yang mencita-citakan penerbitan buku-buku yang inspiratif, yang menggugah perenungan terhadap hidup.

Atau bisa pesan langsung ke:

Mumu
Penerbit Kebun Ide
Jl. H. Gadun No 43
Karang Tengah Lebak Bulus
Jakarta 12440
Tel/Fax : 75905741
HP :0816 1994 156
mumu_aloha@yahoo.com
Harga Rp 25.000 ( belum termasuk ongkos kirim)

*******

Suatu dini hari di masa lalu, Haikal Azad menemukan dirinya basah kuyup di atas tempat tidurnya. Jam di dinding menunjuk angka empat. Di sampingnya Kahfi Azad, anak nomor enam -kakak lelaki tepat di atasnya, masih tertidur pulas. Haikal mengangkat selimutnya, khawatir kalau ia ngompol. Ia meraba celananya. Basah. Tapi, Haikal bingung karena kali itu rasanya lain. Ia mencoba mengingat-ingat, menerka-nerka, tapi lalu ia tiba pada satu kesimpulan: mimpi basah pertamanya.

Entah kenapa tiba-tiba saja perasaan takut muncul. Haikal khawatir kalau hal tersebut diketahui orang lain, terutama Kahfi -orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Dalam cara yang tak pernah dimengerti Haikal, entah kenapa Kahfi seolah selalu berpikir kalau mempermalukan Haikal adalah suatu amal saleh; ia selalu tampak begitu puas bila bisa mengolok atau mempermalukannya. Membayangkan Kahfi memergokinya bermimpi basah saja, telah membuat Haikal mual. Aku tak mau orang lain tahu! Apalagi kucing garong itu!

Perlahan dan hati-hati, Haikal bangun dari tempat tidurnya, menarik selimutnya, lalu memasukkannya begitu saja ke dalam lemari pakaian. Tidak akan dibiarkannya seseorang berbaik hati mencucikan selimut itu dan membiarkannya mendapati noda-noda yang terlalu mencurigakan untuk diamati tersebut. Haikal memeriksa seprainya. Kering. Ia memeriksa lagi, takut ada noda tercecer. Bersih. Ia menarik nafas lega. Sesaat kemudian Haikal berjingkat ke kamar mandi, membuka celana dalamnya yang terasa lengket dan memeriksanya. Ia kini yakin kalau cairan itulah yang disebut air mani.

Namun, Haikal terus berdiri di sana, di depan cermin kamar mandi. Berpikir kalau aib terbesar baru saja menimpanya. Kilasan mimpi itu berkelebat seperti deja vu di matanya. Hanya episode-episode pendek, terputus-putus dan sama sekali tidak membentuk plot cerita yang linear. Tapi, satu hal sangat terang: Haikal memimpikan Kahfi! Dan, mengingat itu seketika Haikal merasa perutnya seperti mau muntah. Yeak!

Haikal menyiduk air dan membasuhkannya di muka, berkumur dan mencuci mulutnya dengan air banyak-banyak. Sangat banyak. Dan, seolah belum puas, ia ambil sikat giginya lalu menggosok giginya berkali-kali, sampai berdarah. Dan, ia terus melakukan itu berulang-ulang. Haikal sama sekali tak menyukai mimpinya. Tidak orang itu. Tidak dia!

Haikal sebenarnya tak tahu harus marah pada siapa, tapi ia memang marah karena mimpi basah pertamanya itu. Namun, Haikal mencoba menenangkan diri dengan mengingat-ingat pelajaran fiqh yang pernah diajarkan guru ngajinya. Ia sudah jarang datang ke pengajian, tapi ia masih bisa sedikit mengingat pelajaran mengenai hadas dan adab bersuci. Hadas besar, hadas kecil. Farji dan mani. Mazhab Syafii. Haikal pun mandi. Jam baru menunjukkan pukul setengah lima pagi.

Haikal Azad anak ketujuh dari delapan bersaudara. Lima perempuan, tiga laki-laki. Ia punya satu adik, Naila. Haikal sangat menyayanginya. Mereka berselisih cukup jauh, lima tahun. Haikal tidak terlalu dekat dengan saudaranya yang lain, terutama Kahfi -yang juga berselisih lima tahun dengannya. Mereka lebih sering bertengkar ketimbang bermanis-manis mengerjakan prakarya sekolah bersama, hal tersebut terus terjadi sejak kecil hingga saat itu -saat Haikal berusia sebelas.

Ayahnya, Shah Azad, seorang berdarah Arab dan lebih dikenal sebagai ayah dari enam belas anak dan suami dari tiga orang istri. Ketiganya tinggal di tiga rumah yang berbeda, meskipun berdekatan jaraknya. Ibu Haikal adalah istri pertama yang dituakan. Ia dipanggil Ummi. Setiap Idul Fitri, Maulidan ataupun acara keluarga lainnya, ketiga istri berkumpul di rumah istri pertama, Sofia Azad. Ketiga istri dan anak-anak Shah Azad hidup berkecukupan.

Shah Azad seorang muslim yang taat dan keras pada anak-anaknya. Ia bisa menjadi seorang yang sangat otoriter. Dan, itulah yang membuat Haikal tak pernah merasa dekat dengan ayahnya. Ia hampir tak pernah berbincang santai dengannya. Haikal ingat suatu siang selepas pembagian rapor di sekolah dan Haikal pulang dengan membawa hasil nilai caturwulannya yang, di luar dugaan, sangat memuaskan. Haikal rangking dua.

"Abah, Ummi udah bilang?" Mata anak lelaki kecil itu berbinar. Shah bergeming, ia meneruskan kesibukannya mengatur pembukuan kios kelontongnya.

"Ical dapet rangking dua," Haikal masih begitu bersemangat menyampaikan berita gembiranya. Sang ayah tetap fokus pada angka-angka di kertas dan LCD kalkulator. Mungkin ia sedang keras-kerasnya berpikir mengatur debet dan kredit, penjualan dan pembelian, untung dan rugi. Sepertinya memang Ayahnya tidak mendengar saat itu dan hal tersebut seketika mengurungkan Haikal untuk meneruskan niatnya menyampaikan berita yang membuatnya bangga. Namun, dugaan Haikal meleset. Ayahnya ternyata bisa mendengar kok. Terbukti saat tiba-tiba terdengar bunyi musik keras dari balik kamar Kahfi, Shah langsung tersentak. "Kahfi!" Sebuah teriakan keras dan kasar. Suara volume tape yang tadi merobek telinga, surut seketika.

"Kamu barusan bilang apa, Cal?" Shah melirik.
"Ical dapet rangking dua catur wulan ini," ucap Haikal bersemangat "Apa? Dua? Yah, lumayan lah. Lain kali musti rangking satu."
Shah pun kembali ke pekerjaannya.
Dan, Haikal tidak merasa kalau ayahnya merasa bangga. Biasa saja. Ah, mungkin rangking dua memang belum terlalu bagus untuk bisa membuat Abah bangga. Itu baru tentang sekolahan. Tentang hal-hal pribadi, tidak jauh berbeda.

Sering dalam masa-masa awal pencarian identitasnya, Haikal tergelitik mengajak orang lain di keluarganya, siapa pun dia, untuk dijadikan tempat bertanya dan berbicara. Tapi, Haikal terlalu malu dan ragu. Masalah pribadi, apalagi yang berbau seks, tabu dibicarakan di rumah Shah. Haram! Padahal banyak hal yang membuat Haikal ingin tahu dan penasaran, terutama yang berkenaan dengan masalah pribadinya. Satu atau dua keterangan dari gurunya di pengajian atau sekolah hanya cukup memuaskan sedikit saja dari keingintahuannya.

Haikal ingat, suatu hari ia begitu dihantui perasaan bersalah karena tanpa sadar mengkhayalkan Ustaz Khaer menciumnya. Astaghfirullah.

Pulang mengaji lebih parah lagi. Kahfi dengan brengseknya meninggalkan sebuah majalah porno di meja belajarnya. Haikal menahan diri untuk tidak menyentuh benda itu. Ia berniat mengembalikannya pada Kakak sialannya secepat mungkin. Ia bahkan akan melakukannya sambil menutup mata. Tapi, gambar eksplisit dua insan berlainan jenis dalam pose seronok di sampul majalah itu tak ayal menarik tangannya. Pertama hanya menyentuh, lalu membukanya, kemudian matanya mulai bekerjasama. Haikal membacanya. Lima menit kemudian ia malah membuka yang lain-lain selain halaman majalah.

Setelah mimpi basah pertamanya, masturbasi pertamanya, lagi-lagi berhubungan dengan nama Kahfi. Dan, bahkan pada orgasme pertamanya pun, bajingan itu masuk dalam visi fantasinya. Sialan! Haikal meludah-ludah sesudahnya.

Sebuah tanda tanya besar selalu ada dalam pikiran Haikal saat itu. Bagaimana mungkin ia mengkhayalkan lelaki kalau jelas-jelas ia juga seorang lelaki? Pertanyaan itu bagaikan sebuah misteri tak terkuak bagi seorang Haikal Azad. Dia ada di sana, melangkah, tapi harus meraba dalam gelap. Sendirian, Haikal hanya bisa membaca sebuah kata dalam tulisan Braille: seksualitas.

Kendati merasa bagai musafir buta tanpa tongkat, Haikal sama seperti remaja belasan tahun pada umumnya. Ia pergi bermain basket di hari Minggu, bermain band dengan empat orang temannya dan hampir setiap liburan panjang ia hiking ke gunung. Gadis-gadis SMA 76, tempatnya bersekolah memberi skor 8 untuk wajah dan penampilan Haikal. Tak seorang pun temannya menganggapnya berbeda, karena Haikal juga menganggap dirinya memang sama dengan mereka, kecuali dalam satu hal. Satu hal yang hanya ada di dunianya sendiri, jauh di dalam sumur jiwanya. Waktulah yang kemudian menjadi guru baginya. Membuatnya secara perlahan paham siapa dirinya dan di mana ia berada.

Awalnya sangat sulit. Tak ada satu orang pun yang akan pernah bisa membayangkan betapa sulitnya. Bahkan ketika pertama kali dia harus menyebutkan dua kata itu. Bukan pada orang lain, melainkan hanya pada dirinya; aku gay. Haikal langsung merinding.

Seperti ada roh lain yang ingin merasukinya, Haikal kerap merasa ketakutan, sedih, malu, marah, dan berdosa setiap selesai merapal dua kata itu. Dalam shalat-shalat malamnya ia bermohon pada Yang Menulis Takdir. Sembuhkan aku, ya Allah, Haikal menjerit dalam bisikan. Saat itu Haikal menganggap bahwa dirinya sakit. Mungkin gila. Skizofrenia. Tapi, ia pun lantas terheran sendiri. Pikirnya, apakah seorang gila masih mengingat Tuhan?

Haikal mencoba mengusir semua pikiran tentang itu. Pernah dua bulan dalam hidupnya ia tidak mau istirahat dan berdiam diri sedikit pun, berharap bisa menghindari pikiran yang bukan-bukan. Haikal berangkat sekolah, waktu itu masih SMA, jam enam pagi. Apa pun ia lakukan untuk mengisi waktunya, asal bukan kegiatan yang merangsang daya khayalnya yang terlalu tinggi. Pulang sekolah hari telah malam. Dan, ia sudah sangat kelelahan. Tapi, di mimpinya pun tetap sama. Lelaki. Lelaki. Dan, lebih banyak lagi Lelaki. Dua bulan, dan ia berakhir di ranjang rumah sakit. Bau obat. Memuakkan!

Ia juga pernah kembali rajin mengaji. Shah dan Ummi senang melihatnya. Haikal berharap ia menemukan solusi atau apalah. Tapi, keangkuhan dinding agama seakan bahkan tidak mengizinkannya sekedar mengetuk pintu dan mengucap assalamu'alaikum. Sapanya berjawab kutuk dosa. Haikal merasa ia berdiri di luar sebuah negeri: utopia penuh janji keberkatan dan kebahagiaan abadi. Negeri itu begitu terlindung. Bentengnya tinggi dan kokoh bagai Tembok Cina. Haikal bahkan tak dapat melihat ke dalam. Sementara ia yang ingin sekedar menyapa, berdiri di luarnya, di tengah padang pasir luas penuh batu, penuh duri, penuh pecahan kaca dan tulang-belulang manusia.

Angin gurun yang kasar bahkan menorehkan luka di wajahnya. Haikal memanggil-manggil orang-orang yang tinggal di dalam negeri itu, tapi bahkan penjaganya pun tak mendengar. Atau, tak mau mendengar? Ia lalu jatuh terpuruk di sana, ambruk seperti sepotong roti tawar lapuk digerogoti kapang. Haikal ingin menangis, karena kesendirian yang begitu menyakitkan. Tapi, bahkan setetes pun airmatanya tak mau keluar. Sudah kering. Habis. Haikal kian berdebu. Ia menjadi tampak seperti fosil manusia Cro Magnon yang tanpa daya lekang ditelan usia. Taubat dan dosa, Haikal bingung di mana bedanya.

Tapi, Haikal bermetamorfosa. Tak ada satu pun bisa menghentikannya.

*******

Acara peluncuran novel "Ini Dia Hidup" disertai dengan diskusi "Homoseksualitas dalam Sastra" yang menampilkan pembicara Bagus Utama (pengarang novel "Manusia-manusia") dan Hetih Rusli (editor novel "Lelaki Terindah" karya Andrei Aksana). Sebagai bagian dari pergelaran Q! Film Festival 2004 (9-19 Desember).


Posted at 09:39 am by inidiahidup
Comments (30)